Pizza

Lantera Cafe: Pizza-nya Asik, Light Meals-nya Ciamik

Yak, kali ini kami ingin bercerita tentang pengalaman kami menikmati menu di Cafe Lantera. Yang ini masih fresh dalam ingatan, soalnya baru sabtu sore ini berkunjungnya setelah macul dan mencabut gulma seharian. Lantera ini letaknya tepat di sebelah Rumah Kopi, sama-sama di Jalan Ranca Kendal di deretan cafe-cafe di Dago Pakar.

Sebelumnya saya pernah ke sini dan merasa kalau pizza-nya enak, jadi waktu kemarin kami ke sana sebenarnya salah satunya karena ingin pizanya, tapi akhirnya kami tergoda dan mencoba memesan beberapa menu dari halaman light meals pada menu. Untuk pesan kami coba pizza large yang Beef Barbeque Pizza, lalu untuk light meals kami memesan Calamari, Mash Potato, sama Banana Priter.

Setelah beberapa saat menunggu dengan beberapa kali diterpa desiran angin yang lumayan kencang, akhirnya makanannya muncul.

Pizza Beef Barbeque

Pizza di lantera adalah woodburned pizza, enak, tipis renyah tapi ga keras. Ada pilihan large yang berkisar di Rp 30.000 an dan yang small yang sekitar Rp 20.000 an. Kalau untuk pizza yang kami pesan ini, topingnya ga berlebihan dan kejunya nyamnyam, lalu ada potongan daging-daging yang cukup gedhe yang tak lain dan tak bukan adalah beef barbeque-nya, sayangnya kurang banyak, hehe.

Calamari

Lalu calamari-nya gemuk-gemuk menggoda, pertama dikira cuma tepungnya doang yang gemuk, tapi ternyata cuminya juga gemuk, hehe. Selain gemuk, cuminya ga amis, friendly banget buat yang ga suka amis-amis seafood seperti saya. Lalu tepungnya juga enak dan pas renyahnya, kemarin sebenarnya pingin banget pesan lagi tapi masih bisa menahan diri. 😀

Banana Priter

Begitulah gambar pisangnya, seperti pisang yang lumayan besar yang digoreng dengan tepung enak dan dipotong-potong menyamping, kemudian diberi susu kental manis dan sedikit bubuk cokelat, yummy banget, pisangnya manis, dan tepungnya renyah. Tapi Elvina merasa ini kemanisan (seperti biasa 😀).

Mashed Potato

Mashed potatonya bentuknya pertama agak mengejutkan, (seperti yang nampak pada foto, hehe). Tapi bumbunya enak dan kerasa banget walau kadang terasa sedikit keasinan, tapi bikin jadi ga eneg makannya. Untuk light meals, harga berkisar mulai dari Rp 7.000 sampai RP 15.000 an.

Di Lantera ini ada beberapa area, ada area yang bentuknya kaya ruang tamu, lalu ada yang bentuknya kaya cafe biasa, dan ada area terbuka yang seperti berupa taman dengan joglo. Kami memilih yang area terbuka, soalnya merasa bagus aja dan fresh, makanya sempat diterpa angin berdesir segala. 😀

Suasana

Puas deh makan sore kali ini, hoho, emang kalap si, tapi semoga bisa tetap sehat, dan tetap bahagia tentunya.

Lantera Cafe
Alamat: Jl. Terusan Ranca Kendal No 8, Dago-Bandung
Jam buka: 11.00-23.00, kalau Sabtu 11.00-00.00

Iklan
Ayam Goreng / Asap / Panggang / Rebus

Ayam Kolgo

Kebanyakan mahasiswa ITB mungkin pernah makan di sini, tapi lain halnya dengan Damas yang setelah menimba ilmu di ITB selama 4 tahun dan sekarang sedang melanjutkan S2-nya, ternyata bahkan tidak tau apa itu ayam Kolgo sampai suatu hari di awal bulan Agustus ini 🙂

Jadi si ayam Kolgo bertempat di deretan warteg dan warung-warung di gerbang belakang kampus ITB. Menu utama yang disediakan adalah nasi ayam goreng dengan kol goreng. Selain itu juga ada nasi telor dadar. Tapi banyak juga yang mesen nasi ayam goreng plus telor dadar.

Harganya cukup sesuai dengan kantong mahasiswa di mana 1 porsi nasi ayam dan kol gorengnya cuma 8500 rupiah. Dan kalau mau nambah jadi nasi ayam goreng plus telor dadar harganya 11500 rupiah. Enaknya kol gorengnya diberikan secara cuma-cuma, jadi keunikan yang menyenangkan. 😀 Namun, terkadang kalo warungnya sedang rame banget, ayam dan kol gorengnya ga sempat ditiriskan cukup lama, jadinya agak berminyak gitu. Tapi overall, makan di sini enak, mengenyangkan, dan murah 😀


Cemilan · Siomay

Cemilan ala Blitz

Hai hai, pada postingan ini tidak akan diceritakan tentang makanan dari suatu tempat makan atau restoran seperti biasanya, tapi tentang makanan kecil alias cemilan yang dijual di sebuah bioskop, lebih tepatnya Blitz Megaplex PVJ Bandung. Hoho.

Jadi ceritanya begini, pada suatu hari, yang mana adalah hari Jumat kemarin, saya libur kantor, hari libur yang tidak lazim sebenarnya tapi justru itulah menyenangkannya, hehe. Kami berdua memutuskan untuk menonton estafet di bioskop (sayang cuma sempat nonton 2 film saja, sudah terlalu malam untuk film ketiga 😦).

Sebelum kemarin itu, saya sebenarnya belum pernah membeli makanan apapun di bioskop selain popcorn. Salah satu alasan utama adalah harganya yang relatif terlalu mahal untuk makanan dengan jenis dan rasa seperti itu. 😀 Tapi ada pengecualian untuk kemarin, jadi waktu jeda antara film pertama dan kedua cukup sempit, namun kami tidak rela membiarkan perut kami mengembik selama nonton film kedua, hehe. Akhirnya kami memutuskan yang praktis saja, memesan makanan kecil yang dijual di counter makanan Blitz (yang kalau dilihat-lihat gambarnya memang menarik juga si, hehe).

Chicken CornPesanan pertama kami adalah Chicken Corn, kira-kira begitulah bentuk dari Chicken Corn, saya sebenarnya mengira chicken corn itu mengandung jagung manis (yang mana terbayang rasanya enak, hehe), tapi kemudian dijelaskan oleh Elvina kalau disebut chicken corn karena bentuk penyajiannya yang menyerupai jagung. 😐 Jujur saja, awalnya terasa enak, ayamnya kerasa renyah gitu. Tapi kok lama-lama jadi semakin hambar ya, saya bingung juga kenapa bisa gitu, lidah kami yang salah atau emang bumbunya yang kurang rata ?

SiomayLalu kami memesan siomay juga, yang aroma ikannya cukup menyengat, tapi masih bisa saya tolerir (saya ga suka seafood sebenarnya, hehe), isinya ada 5 buah. Rasanya enak sebenarnya, tapi kaya kurang berasa bumbunya, kriuk-kriuk nya juga bikin enak, cuma terlalu besar kayanya dibanding ukuran siomaynya sendiri. 😀

Harga cemilan di Blitz berkisar sekitar Rp 20.000 an, seperti yang saya bilang, berasa terlalu mahal menurut saya, namun maklum aja si sebenarnya di tempat seperti itu. Walaupun begitu keberadaannya cukup membantu di saat malas keluar lagi untuk beli makanan kok. (misalnya kaya kemarin 😀)

Yuk mari, demikianlah postingan kali ini, semoga berguna, dan bisa membuat tetap kalap, tetap sehat, dan tetap bahagia. 😀

Belut · Tak Berkategori

Kedai Teteh Indorasa: Belut Kriuk-nya Mantaps

Setelah seminggu yang cukup melelahkan (namun cukup memuaskan) kemarin, kami bersama dua sejoli Brian dan Mariska (secara cukup spontan) memutuskan untuk main ke Lembang pada hari minggu. Tidak ada hal yang kami cari selain hal-hal menarik di luar rutinitas dan refreshing sebenarnya (dan kuliner tentunya, hehe 😀).

Dari awal, tujuan kuliner kami sebenarnya cukup jelas, yaitu Kedai Teteh Indorasa. Kenapa Kedai Teteh Indorasa ? Jadi waktu saya pertama kali pergi ke Kedai Teteh ini sekitar tahun 2008 bersama si Babi di sebuah malam sehabis bermain seharian, ada menu yang tidak terlupakan, yaitu belut saus mentega, yang benar-benar membuat ketagihan. Sayang, jarak dan waktu yang kurang bersahabat membuat saya sangat jarang bisa menikmati menu tersebut.

Lokasi Kedai Teteh Indorasa ini sendiri cukup mudah ditemukan, dari jalan Lembang yang ada Susu Murni-nya terus saja, sampai perempatan di mana kalau mau balik ke Bandung ke arah kanan, ambil jalan yang terus, beberapa saat kemudian di sebelah kiri tampak jelas plang Kedai Teteh Indorasa. 🙂

Kemarin kami cukup visioner, saat makan di tempat ini, tidak mau terlalu kenyang, soalnya pingin lanjut ke tempat lain, hehe. Tapi tentu saja Belut Saus Mentega ada dalam menu pesanan kami, ditemani dengan Gurame Indorasa (yang kata si Babi enak banget), dan ca kangkung polos.

Belut Saos MentegaNah ini dia Belut Saus Mentega nya. Jadi belutnya dipotong pendek-pendek lalu digoreng pake tepung sampai kriuk-kriuk, baru deh kemudian diberi saus menteganya. Rasanya? Sensasi belut di lidah yang emang udah enak, plus saos mentega, dikombo dengan kriuk nya yang juara, ga sampai kering dan keras, tapi ga lembek juga … ciamik banget! Bikin ga bisa berhenti makan karena crunchy-nya kata Elvina, hehe. Lalu Elvina cerita kalau di Bukittinggi dia pernah makan belut bumbu balado yang lebih enak lagi, wui, sampai ga kebayang enaknya kaya apa itu, pasti enak banget, hoho, slurup.

Gurame IndorasaTapi sayangnya ada rasa kecewa pada gurame indorasa, ternyata rasanya biasa-biasa saja. Sebenarnya rasa kecewa lebih karena ekspektasi yang berlebih karena si Babi yang udah bercerita kalau rasanya enak banget.

Ca Kangkung PolosCa kangkung polos-nya lumayan enak rasanya dan segar, karena masaknya ga sampai matang-matang banget kayanya. Cukup untuk memuaskan dahaga akan sayuran hijau nan berserat. 😀

Untuk kesemuanya porsinya ga mengecewakan, cukup untuk makan puas berempat. Saya lupa rincian harga-nya berhubung ga diberi notanya juga, tapi untuk ketiga menu di atas ditambah 5 nasi putih, totalnya adalah Rp 140.000 an. Worth it. 🙂

Setelah sebentar mengobrol dan membiarkan makanan turun, kami segera menuju tahu Tauhid. Postingan tentang tahu Tauhid akan segera menyusul. 😀 Yang jelas, tetap kalap, tetap sehat, dan tetap bahagia. 🙂

Ayam Goreng / Asap / Panggang / Rebus · Kopi

Roemah Kopi: Nikmatnya Ngopi ditemani Ayam Asap Berserat

Roemah Kopi adalah salah satu kafe di jajaran kafe-kafe yang bermukim di Jalan Terusan Ranca Kendal, Dago Pakar. Walaupun namanya Roemah Kopi, tapi sebenarnya dia menyediakan berbagai macam minuman selain kopi dan menu makanan yang cukup bervariasi lo. Saya pernah beberapa kali makan di tempat ini berhubung lokasinya relatip dekat sama kantor, tapi belum pernah nyobain kopinya sama sekali sebelumnya, paling mentok pesan es teh aja buat minumnya (ga enak juga udah dibayarin si bos ini, haha 😀).

Nah, tapi dari beberapa kali ke Roemah Kopi itulah saya menemukan sebuah menu yang sangat saya gemari, yaitu nasi ayam asap, biasanya si saya merasa biasa aja sama menu-menu ayam, tapi yang satu ini terasa lain dari yang lain, bagai emas di tumpukan jerami.

Nah, kemarin sabtu kami berdua berkencan bermain bersama ke tempat ini, sebenarnya gara-gara saya yang lagi pingin ayam asap si, sembari pingin cobain kopinya juga. Setelah sampai, kami tercenung sejenak menikmati suasana, suasana yang jadul-jadul dengan suguhan pemandangan bukit-bukit nan hijau diiringi suara bising kenalpot custom motor lalu lalang (true story).

Lalu kemudian kami segera mengeksplorasi buku menu yang ada untuk mencari menu kopi yang tampak menarik, kalau untuk makanannya saya teguh pada keinginan pertama, yaitu ayam asap, Elvina juga memesan itu.  Akhirnya setelah bolak balik bolak balik, saya memesan Queen Of Coffee, tertarik sama rum nya (dan penasaran akan harganya yang paling mahal 😐), Elvina ga memesan kopi, berhubung ga suka, dia memesan sesuatu yang namanya Lambada.

Beberapa saat kemudian … Nasi Ayam Asap ! Pada pandangan pertama keliatan kalau ayamnya gedhe banget, lalu di kulitnya terdapat baluran mentega yang menggoda. Ayamnya kering gitu karena diasapi, bumbunya enak dan berasa banget. Lalu bagian paling menyenangkannya adalah, seratnya si ayam ini benar-benar ciamik, bisa kaya serabut-serabut gitu, puas banget deh ngunyahnya beneran, bikin ketagihan. Apalagi sambalnya juga ga kalah ciamik (di foto malah hitam kaya kecap gitu :|), lebih dari cukup untuk membuat sore hari berasa sangat menyenangkan. 😀 Oiya, si ayam asap ini juga bisa dipesen 1 ekor gitu loh.

Nasi Ayam Asap

Nah yang ini kopi pesanan saya, Queen of Coffee, yang adalah kombinasi dari cappucino dan 20 ml rum, dengan whipped cream dan cokelat di atasnya (dan sebuah biskuit). Dan saat saya mencicipi (setelah menambah 1 sachet gula), jedengdeng, rasa rum nya ternyata sekeras itu, sampai-sampai rasa pahitnya justru lebih dari si kopinya, haha. Untuk setiap seruputannya, ada sensasi khas rum yang menyergap hidung, bagian ininya si menyenangkan, hoho. Kalau emang mau begadang kayanya cocok ni minuman, selain bisa jadi melek karena kopinya, rumnya bikin hangat badan juga. 😀

Queen Of Coffee

Nah, dan ini Lambada, minuman pesanan Elvina, yang ternyata enak bangeet (dan membuat agak menyesal ga pesan yang dingin-dingin manis nikmat menyegarkan kaya gini aja). Jadi content si Lambada ini adalah myers rum, rum raisin ice cream (yang bikin rasa pahit si rum jadi ga mendominasi lagi) dan potongan-potongan kismis. Segar!

Lambadda

Untuk tambahannya, kami mesen Bitter Ballen, kentang bulet ini isinya  keju dan daging.. Sausnya yang kuning itu kayak mayonnaise homemade. Pas bangetlah rasanya kalo dimakan selagi hangat.

Biter Ballen

Nah, ini dia suasana si Roemah Kopi. Jadul-jadul penuh dengan tempat tidur. (agak kontradiktif sebenarnya, kopinya bikin ga ngantuk, tapi kasur-kasurnya bikin pingin tidur, haha 😀)

View

View 2

Makanan yang disediakan di sini bermacam-macam, mulai dari western food (beef strogannoff, sandwich, steak), dessert, cake, makanan Indonesia, dan bermacam-macam minuman (international coffee, mix hot coffee, mix cold coffee, dll). Untuk harga makanannya berkisar 12.ooo – 65.000 rupiah. Sedangkan minuman mulai dari 8.000 – 90.000 rupiah (yang 90.ooo itu adalah 1 cangkir Kopi Luwak :D)

Roemah Kopi
Alamat: Jl. Terusan Ranca Kendal No 9
Dago-Bandung
Jam buka: 11.00-23.00


Masakan Cina Peranakan

Kopi Tiam Hochiak

Pernah dengar kopi tiam? Kopi tiam berasal dari gabungan kata kopi dari bahasa Melayu dan kata tiam yang berarti kedai dalam bahasa Hokkien. Kedai-kedai ini biasanya banyak ditemukan di Malaysia dan Singapore.

Nah, awalnya saya tau kalo di Jakarta ada banyak kopi tiam, antara lain Killiney Kopi Tiam yang ada di Central Park dan Kopi Tiam Oey yang pernah diliput sama Pak Bondan. Tapi selama 4 tahun lebih di Bandung ga pernah tau ada :p Ternyata, ada loh. Sampai ga tau gitu mungkin karena tempatnya agak jauh, di daerah Setrasari di dekat Maranatha. Beberapa waktu lalu sempat makan di sana sama Damas.

Namanya Kopi Tiam Hochiak. Restoran ini buka dari pagi, tapi kalo datang kepagian ( di bawah jam 8 ) kebanyakan heavy meals nya masih belum ada, baru breakfast menu aja. Kopi Tiam Hochiak ini (dan sepertinya jenis-jenis restoran kopi tiam lain) interiornya mirip-mirip Sagoo dan Pokatiam (postingan menyusul), yang membuat saya  cukup senaang.

Nah, kali kedua datang ke sini, saya memesan Nasi Bistik Ayam, Damas mesen Mie Goreng. Agak heavy untuk makan pagi. Tapi gapapa lah yaa..

Bistik ayamnya agak standar si, si ayamnya lumayan gurih dan campuran kecap manis + kecap inggris di kuah si bistiknya terasa banget. Porsi si ayamnya juga ga pelit, terasa full setelah makan 😀


Here was Damas’s choice. Dulu waktu pertama kali ke sini, saya yang mesen mie goreng. Mie-nya agak-agak berminyak tapi ga mengurangi enaknya si.. Namun kata Damas sayangnya ga se-ultimate itu, soalnya penampilan fisiknya (aslinya) udah menggiurkan, jadi ada seselip rasa kecewa soalnya ga sesuai bayangan dan ekspektasi, hehe

Daan, sebagai tambahan kita juga mesen Lumpia goreng. Which amazed us, tapi bukan dalam artian positif sayangnya. Karena 1 porsi yang datang memang berisi 3 buah lumpia tapi ukurannya kecil, terlalu kecil malah 😦 Kabar bagusnya adalah udang yang ada di dalamnya enak dan kulitnya renyah.

Menu breakfast yang disediakan kebanyakan toast gitu. Menu makanan di sini bisa dikatakan tergolong sedikit dibanding kopi tiam yang ada di Jakarta gitu. Kisaran harga makanan dan minuman di sini antara 4.000-20.000an IDR. Biasanya di atas jam setengah 9 restoran ini udah penuh loh, dan berhubung tempatnya kecil dan meja&kursinya ga sebanyak itu, jangan sampai telat kalau mau nyicipin makanan di sini. Oiya, dan makanannya HALAL 🙂

Kopi Tiam Hochiak

Alamat: Jl. Surya Sumantri 120, Setrasari Plaza Ruko, Bandung

Tetap kalap, tetap sehat, dan tetap bahagia. 😀

Guest Post · Seafood

[Guest Post] Jemahdi Seafood

PEKIK MERDEKA!!

Senang sekali rasa hati dapat berkontribusi pada blog makankalap ini. Hari ini adalah 17 Agustus 2011. Libur nasional seperti ini adalah waktu yang tepat untuk berburu binatang makanan. Hari ini hamba mendapat kunjungan kehormatan dari bos avtur Aloysius yang semakin digilai wanita dengan slim jim Nudie-nya.

Seusai menjemput tamu kehormatan di halte bis seberang mall anyar di bilangan Central Park, kami merapat ke gubuk hura gw. Kami melepas rindu satu sama lain dengan bercengkrama secukupnya sampai Aloy mengarahkan pembicaraan ke tujuan utama kehadiran beliau, mencari makanan yang jarang kami makan di hari-hari biasa. Ada dua opsi penting yang menjadi agenda kami, babi dan seafood. Setelah lama berkutat dan beradu tanduk,  kami satu suara untuk  mencari masakan hewan laut di pantai utara Jakarta.

Berdasarkan referensi rekan Aloy yang tinggal daerah Pluit, tujuan kami sejatinya adalah Pangkep 33 di Pluit Karang, namun ternyata resto ini baru buka sore hari, sehingga kami memustuskan untuk menuju Jemahdi yang terletak beberapa ratus meter dari TKP awal, lebih tepatnya di Jalan Pluit Karang, Jakarta Utara.

Pertama kali memasukin daerah halaman resto, kami disambut asap pembakaran dari makanan laut yang begitu menggoda. Resto ini tidak mewah dan tidak ada papan nama-nya. Yang menarik mata saya pertama kali adalah dinding resto yang memajang foto-foto pemilik resto dengan sejumlah pejabat dan artis, salah satunya Agnes Monica *slurp*.

Kami duduk di meja yang cukup untuk 4 orang, karena kami berdua sudah yakin, bahwa kita akan makan kenyang. Kami membuka menu. Kami kalap. Kami memesan semua jenis masakan: ikan, udang, cumi, kerang, kangkung, nasi, teh tawar, nasi lagi..

Sambil menunggu makanan tiba, tiba-tiba muncul ide untuk menyumbang artikel di blog makan kalap ini. Ketika asik memikirkan ide dan konsep blogpost di makan kalap ini, kami terhentak dengan datangnya teh tawar hangat pesanan kami yang langsung disusul dengan satu bakul nasi putih. Belum sempat menarik napas, sudah muncul cumi masak lada hitam, kangkung tumis terasi, serta udang saos singapore seperti di bawah ini.

Cumi Saos Lada Hitam
Kangkung Terasi
Udang Saos Singapore

Aloy langsung mencicipi cumi saos lada hitam dulu sedangkan saya masih sibuk merapikan poni rambut. Tiba-tiba Aloy terdiam dan menginstruksikan saya untuk mencoba cumi yang terlihat masih mengepul panas dan menggoda lidah. Gigitan pertama dari cumi ini begitu kenyal, tapi tidak alot. Kenyalnya pas! Agak sulit memasak cumi dengan kekenyalan seperti ini. Kalau kelamaan masaknya, akan alot. Tapi yang ini kenyal pas. Bumbu lada hitamnya begitu pekat dan kental bercampur kecap tiram kelihatannya sehingga tidak terlalu hot. Enak sekali rasanya.

Aloy kemudian mencoba lagi kuah dari saos udang singaporenya. Kembali, saya pun turut mencicipinya. Aloy menyuruh saya mengambil irisan bawang bombay yang ada di adukan saos singapore itu. Pertama kali kuah singapore itu masuk mulut saya, sesaat saya tahu, bahwa selama ini saya hidup dalam kegelapan. Segalanya menjadi terang. Kuah singapore ini cukup pedas, terlihat dari warnanya yang agak oranye dan merah. Di kuahnya itu juga terlihat adukan telur dan irisan bawang bombay. Rasanya mirip saus padang di beberapa resto yang pernah saya coba sebelumnya, tapi ini jauh lebih enak. Gurih sekali rasanya. Asinnya pas, pedasnya pun tidak terlalu pedas. Lalu saya coba mengupas udangnya. Kulit udangnya sendiri masih kaku, menandakan tingkat kemasakan yang pas juga, tidak terlalu matang. Kalau udang terlalu lama dimasak, kulitnya akan rapuh. Lalu saya sruput kuah-kuah yang menempel di kepala udang, rasanya sempurna!  Daging udang pun sangat kenyal dan juicy. Pokoknya kelezatan udang sejati.

Kangkung terasi yang sudah ada di meja pun kami embat, rasanya enak, tapi karena terbanting dengan rasa cumi dan udang, rasanya tidak perlu kami bahas di sini.

Kami pun memulai menyantap makanan setelah foto-foto dahulu. Setengah jalan kami makan, datanglah ikan kerapu bakar saos rica-rica yang kami pesan. (foto tidak tersedia karena tangan sudah belepotan) Melihat kondisi porsi yang ternyata masih kami anggap sedikit, kami kemudian memesan satu menu lagi, kerang kepa saus tauco.

Ikan kerapu bakar saus rica-rica ini menurut penuturan Aloy sangat enak. Begitu saya cicipi juga memang enak sekali rasanya. Ikan bakarnya sendiri kering, tidak basah. Biasanya ikan bakar di banyak tempat itu dilumuri saus, entah mentega, atau kecap sehingga menimbulkan kesan basah. Tapi ikan bakar ini terlihat kering, namun di atasnya dilumuri saus rica-rica. Saus rica nya sendiri yang bisa saya lihat terdiri dari bawang putih dan merah, serta cabe rawit yang ditumbuk bersama. Terlihat biasa saja, tapi ketika saya gigit.. Rasa pedas, asin, dan gurih dari ikan bersatu dengan selaras di lidah saya. Super! Baru kali ini saya memakan ikan senikmat ini.

Kemudian kerang kepa saus tauco datang. Bentuk kerangnya sendiri tidak jauh berbeda dengan kerang dara yang biasa tersedia di resto seafood. Agak putih, cangkang yang licin, dagingnya putih juga. Ketika saya gigit, kerangnya terasa lembut sekali. Hampir mirip tiram namun dengan ukuran lebih kecil. Rasa saus tauconya juga tercium pekat, namun tidak terlihat biji tauconya. Asin dan sedikit pedas. Sangat serasi.

Dari total porsi makanan yang kami pesan, ada total 5 menu dengan masing-masing kami makan 2 porsi nasi putih, kami merasa bangga dapat makan dengan porsi kuli. Kami sedikit melihat-lihat sekitar ke meja-meja lain yang memesan 4 porsi makanan untuk 6 orang, 4 porsi makanan untuk 5 orang, sedangkan kami, 5 porsi untuk 2 orang.

Seluruh saos yang enak kami santap hingga tandas, berikut adalah hasil perjuangan kami selama 40 menit menghabiskan makanan lezat ini.

Ada sisa ikan bakar rica dan kerang kepa saus tauco

Total pengeluaran kami untuk makanan sebanyak ini tidaklah terlalu mahal. Demikian detil harganya. Ada juga info alamat dan nomer telepon rumah makan Jemahdi ini.

Total Damage Cost

Demikian kira-kira pengalaman pertama kami berdua, meliput perjuangan dan petualangan kami untuk makan kalap edisi dirgahayu. Semoga kami bisa tetap kalap, tetap sehat, dan tetap bahagia ya, haha.

Selama ini lidah saya hanya mengenal dua rasa, rasa enak dan rasa tidak enak. Baru kali ini saya mengetahui ternyata ada rasa ketiga, rasa KEMERDEKAAN!

[Tulisan di atas adalah tulisan hasil kontribusi spesial hari kemerdekaan dari dua sahabat kalap kami yang sedang  merantau di Jakarta, yaitu Hari Bagpipe dan Avtursius. Terima kasih mamen ! ~Dominikus ]