Nasi Goreng

Nasi Goreng Padang Surya Bundo

Salam dari Bandung!

Ulasan kali ini masih sama dengan topik sebelumnya, yaitu nasi goreng. Tepatnya nasi goreng Padang Surya Bundo 🙂
Mungkin memang bukan info baru buat penghuni Bandung terutama yang bertempat tinggal di seputaran Tubagus Ismail-Cisitu-DU.

Tempat makan yang terletak di pinggir jalan Djuanda ini *kalau dari Simpang Dago, di sebelah kiri jalan bareng warung-warung tenda yang lain, tinggal cari tulisan Surya Bundo, hehe* buka dari sore, sekitar jam setengah 5 dan hampir setiap hari rame. Bahkan katanya pernah masuk ke acara WisKulnya Pak Bondan juga.

Nasi Goreng Padang Surya Bundo

Rasa nasi gorengnya memang enak dan khas. Ditambah lagi dengan adanya potongan daging dan bawang goreng ;9 Plus  untuk pelengkap juga diberi telur gitu, bisa milih mau telur dadar atau ceplok. Kalau Damas lebih suka telur ceplok, saya lebih memilih telur dadar, karna rasanya mengingatkan saya dengan kampung halaman. Hehe.. Nah, kekurangannya menurut saya adalah terkadang terlalu berminyak sih..

Harga terbarunya Rp. 8000.. Naik seribu dibanding terakhir ke sini setahun lalu. Oiyaa, selain nasi goreng, juga ada soto Padangnya loh. Rasanya juga enak, masih otentik Padang.

Oke, sekian dulu ya! Tetap kalap, tetap sehat, dan tetap berbahagia!

Nasi Goreng

Makan Nasi Goreng Bistik Enak Gelap-gelapan

Hei hei semua, salam kalaps, hehe. Pada postingan kali ini aku akan sharing tentang pengalaman kami berdua pas makan nasi goreng bistik astana anyar. Nasi goreng bistik ini nampaknya udah cukup terkenal juga, kita penasaran soalnya sebelum-sebelumnya udah direkomendasikan sama Daniel sama Brian, tapi baru beberapa saat yang lalu nyobain ke sana.

Jadi waktu itu diberi ancer-ancer tempatnya tu di jalan Astana Anyar kanan jalan beberapa saat abis King Helmet kalau dari utara. Pas nyari-nyari, di sekitar area situ ga ada apa-apa dong, cuma kaya rumah dan toko-toko biasa gitu, sama ada gerobak pake petromak yang dikerumunin orang gitu di salah satu area yang gelap. Kami beberapa kali bolak-balik di sekitar area itu sampai akhirnya tersadar kalau gerobak itu tak lain dan tak bukan adalah si nasi goreng bistik yang kami cari-cari, haha. Memang sebenarnya udah mencurigakan si soalnya rame juga orang berkerumun, cuma ga nyangka aja tempatnya kaya cuma gerobak nasi goreng biasa gitu bahkan tanpa terpal kalau ga lagi gerimis, udah gitu di bagian yang gelap-gelap lagi, hehe. Dan ternyata ada namanya lo, namanya adalah AA Bistik, tak pelak lagi memang bistik berarti makanan andalannya, hoho. Ini ada fotonya biar kebayang gimana kira-kira suasananya. 🙂

Setelah kita memesan nasi goreng bistik, ga berapa lama muncul deh makanannya. Selain ada bistik ayamnya, ada kentang goreng juga sama buncis rebus. Itu bistik sama kentangnya banyak sampai nasi gorengnya ga nampak lagi, hehe.

Rasa nasi gorengnya enak si, cuma ga enak banget gimana, tapi bistiknya yang enak, ayamnya diberi tepung crispy mirip mirip tepung di ayam goreng fastfood. Kentangnya juga enak, dipotong tipis-tipis renyah-renyah gitu. Lalu sausnya walaupun enak tapi mending ga langsung dicampur semua ke nasinya daripada jadi keasinan kaya aku kemarin, hehe.

Lalu pas ke sana lagi, aku cobain nasi goreng fuyunghai-nya, di luar dugaan ternyata betulan cuma nasi goreng sama fuyunghai, aku kirain tetep ada kentang sama buncisnya, entah kenapa agak kecewa juga, hehe. Rasanya enak-enak aja si, cuma kalau ke sini lagi kayanya mending pesan nasi goreng bistik aja. 😀

Untuk nasi goreng gerobak, harganya cukup mahal, cuma ya kalau dari rasa dan isinya si oke-oke aja, hehe. Harga nasi goreng bistik itu Rp 17.000, kalau yang nasi goreng fuyunghai anehnya lebih mahal, Rp 20.000. Selain itu ada beberapa menu lain juga layaknya orang jualan nasi goreng, harga rata-rata segitu juga.

Tetap kalap, tetap sehat, dan tetap berbahagia. :3

Fast Food · Masakan Korea

BonChon Indonesia

Suatu hari Damas datang ke Jakarta dengan alasan pengen nganterin tiket kereta padahal pengen ketemu aku, haha.. Jadilah kami bertemu di Central Park (CP) malam itu. Sebenarnya di sini banyak sekali tempat makan, terutama di lantai terbawahnya. Seabreg bangetlah: family restaurant, fast food, snacks, dan kopitiam2. Tapi, pilihan kami jatuh kepada BonChon, Korean fast food restaurant.

Yang paling pengen dicobain di sini tentu saja adalah BonChon chicken. Ada beberapa paket yang ditawarin dengan pilihan sesuai jumlah wings, drums, thighs, atau strips yang kita pengen. Rasa ayamnya ada yang biasa dan spicy. Si BonChon chicken ini cukup enak dan crispy. Apalagi yang spicy, pedasnya pas sih, ga berlebihan. Tapi kebetulan aku pernah coba yang di Sudirman Citywalk, di sana bumbunya kurang meresap ke ayamnya, beda dengan yang di CP ini.

BonChon Chicken

Kalau baca dari poster-poster di restorannya sih, BonChon chicken ini healthy, karena tiap ayamnya ditimbang, yang terlalu gemuk bakal ditolak, sausnya dari ekstrak buah, dan pengolahan ayamnya bersih. Ciyus? Miapah? *Haha, jadi merusak suasana ginih*

Seperti fastfood lain, pasti ada burgernya dong ya. Kalau mau agak beda, bisa nyobain Kim (Kimchi) burger –> tapi kita terlalu takut buat cobain, takut rasanya ga karuan. Hehe.. Dan juga ada salad: Chicken, Fish, Fresh, dan Bulgogi Salad. Ada Kimchi dan Kimchi soup juga sebagai Korean side dish-nya. Cuma porsinya agak dikit sih :p *makanya jadi side dish aja*

Chicken Salad

Untuk  menu dan harga selengkapnya bisa dilihat di web Bon Chon Indonesia-nya langsung. Sayang sekali tapi di Bandung masih belum ada. Di Jakarta sendiri cabangnya udah lumayan banyak.

Berikut cabangnya: Grand Indonesia, Central Park, Gandaria City, Citywalk Sudirman, Kota Kasablanka, Lippo Mall Kemang, Living World Alam Sutera (Serpong), Supermal Karawaci, Beachwalk Bali.

Tetap kalap, tetap sehat, dan tetap berbahagia. :P

Cemilan · Tahu

Cemal-cemil Olahan Tahu di Warung Talaga

Hai hai, malam-malam jam segini biasanya aku lapar dan ngantuk, jadi ga bisa mikir yang berat-berat, jadi mungkin waktu yang sebenarnya cukup tepat untuk bercerita tentang pengalaman galau-galau makan kalap, hehe.

Singkat cerita, pengalaman yang akan diceritakan di sini adalah pengalaman jajan di warung talaga. Warung Talaga adalah sebuah ‘warung’ yang menjual berbagai macam cemilan olahan tahu yang merupakan produksi dari Pabrik Tahu Yun Sen yang katanya udah ada dari tahun 1938. (selain tahu2an ada beberapa makanan berat si sebetulnya, kaya mie, nasi-nasian, dll). Kami termasuk sering ke sini karena olahannya berupa cemilan, jadi bisa dimakan sehabis makan berat atau bahkan sebelumnya dan berasa oke-oke aja. (apa sih cemilan yang ga oke ? 😛)

Berikut ini beberapa menu yang kami pesen pas terakhir ke sana, namanya emang aneh-aneh, tapi untungnya di menunya ada foto-foto juga jadi setidaknya ga random-random banget pesannya, hehe:




Berurutan dari atas adalah tahu buntel, tahu gondrong, tahu samosa, sama kerupuk banjur. Tahu buntel tu tahu yang dibungkus sama pangsit lalu diikat pake semacam sayuran gitu, enak dalamnya, tapi mungkin yang tahu buntel ini cukup banyak ditemui juga di cafe-cafe lain. Lalu kalau tahu gondrong itu tahunya dililitin kaya di foto itu, enaknya tu tepung lilitannya itu renyah banget apalagi kalau masih anget, menu ini yang adalah salah satu favoritku, :D. Tahu buntel sama tahu gondrong dilengkapi dengan sambel yang sama, dan harus diakui kalau sambelnya emang enak, kombinasi pedas sama manisnya sambel bareng sama gurihnya tahu itu emang ciamik banget.

Lalu setelah itu ada tahu samosa, bentuknya kaya pangsit segitiga gitu, di dalamnya ada tahu yang diberi kaya bumbu yang agak pedas gitu, yang ini favorit Elvina, hoho. Dan yang terakhir adalah kerupuk banjur, kerupuk aci yang diberi kuah kaya bumbu kacang gitu tapi pake oncom, aku kurang suka rasa oncom tapi suka bumbu kacang sama kerupuk, jadi pas makan ini rasanya ada dilema dalam diri. Selain itu semua biasanya kami pesan kembang tahu, yang ini kaya bagian tahu yang lembut banget, diberi kuah kaya jahe gitu, aku pertama kali makan di sini dan rasanya enak banget. 🙂

Untuk cemilan-cemilannya, harganya berkisar antara Rp 7.000 sampai Rp 15.000, pesan kami jangan super kalap aja si di sini, yang namanya cemilan kan sering kebablasan kalap soalnya ga kenyang-kenyang rasanya, hehe.

Lokasi Warung Talaga ada di Ciwalk atau PVJ, namanya ‘warung’ karena konsepnya emang warung-warung kelontong jaman dulu, lengkap dengan properti-properti pelengkap suasana kaya poster-poster dan benda-bendi perkelontongan dari jaman dulu. Dan selain piring-piringnya masih pake piring kaleng yang lurik itu, mas-masnya juga pake kostum yang mendukung, seru juga, hehe. Ini foto-nya (ini foto yang ada di PVJ, tapi foto lama, yang sekarang udah dieksten jadi lebih gedhe lagi).

So, jadi tertarik cobain weekend ini ? 😀 Tetap kalap, tetap sehat, tetap berbahagia