Masakan Cina Peranakan · Masakan Nusantara

Dapur Eyang, Seperti Berkunjung Ke Rumah Eyang

Halo-haloo, lama sekali tidak bersua dengan kita berdua *untuk ukuran blog si ga update hampir 3 tahun itu sebenarnya sangat suram ya, haha*. Yah, apa mau dikata, sudah terjadi, maka terjadilah, hehe. Dan sekarang kami mau mulai share-share lagi pengalaman makan kalap kami di sini. 3 tahun lebih sudah berlalu, banyak sekali hal yang terjadi di bidang permakanan kami, tapi langsung saja lah ya ke ceritanya.

Untuk sebuah post perdana setelah sekian lama, akan aku share pengalaman makan kalap kami ke sebuah tempat yang sudah dinobatkan menjadi salah satu tempat makan favorit selama beberapa saat terakhir, tempat itu adalah … Dapur Eyang! Bayangkan, ‘dapur’ dan ‘eyang’, sebuah kombinasi di bidang makanan yang sangat ultimate. Lokasinya ada di Jalan Tubagus Ismail, tidak terlalu jauh dari jalan Dago. Jadi kalau dari arah jalan dago, setelah sebuah kurva pertama ke kiri, bersiap-siaplah, karena di bagian kiri akan kafe Dapur Eyang ini. Dulu pertama kali tahu sekitar tahun 2014 kalau tidak salah diberi tahu oleh Hasby, cukup shock juga waktu itu karena merasa sering sliwar-sliwer daerah Tubagus ini tapi tidak pernah ngeh.

Jadi Dapur Eyang ini adalah sebuah kafe, namun memang ada atmosfer yang menurutku berbeda dengan kafe-kafe pada umumnya di Bandung. Suasananya sangat nyaman, adem, dan tenang sekali, karena memang berlokasi sebuah rumah yang lama lengkap dengan perabot-perabotnya yang memang semakin mendukung ke-“eyang”-an Dapur Eyang ini. Tempat favoritku di bagian belakang, ada bar kecil dan tembok yang dilapis dengan pinewood plus lampu warna kekuningan memperkuat suasana yang tenang.

suasana.png

Nah oke, jadi suasananya udah enak, gimana makanannya? Nah ini dia yang bikin makin favorit, menu m1asakannya tu masakan-masakan yang memang pada dasarnya sudah cocok di lidah dan perutku, haha. Kalau di sini paling sering memesan nasi cikur polos, lalu angsio tahu atau tumis kangkung, lalu cumi goreng tepung, kakap, atau ayam untuk lauknya, sama minumnya adalah teh dilmah dingin dalam poci, nyem, semua nikmat.

Hingga suatu saat ada kesempatan untuk mengajak kencan Elvina ke sini, langsung saja lah, kita datang, kita masuk, kita menuju tempat favorit, dan kita memesan serentetan menu favorit, dan tidak lama menunggu, datanglah pesanan itu, tidak berapa lama kemudian datanglah … (dan tidak beberapa lama kemudian datang juga Hasby dan Halida yang ternyata juga kencan di situ, hoho)

nasi-cikur
Nasi Cikur polos, primadona
angsio
Angsio Tahu penuh konten
kakap-asam-manis
Kakap Asam Manis
calamari.png
Calamari, kerenyes
teh-poci
Teh Dilmah dingin dalam poci, biasanya pesan rasa leci

Nasi cikurnya enak banget, cikurnya berasa dan ada kremes-kremesnya yang bikin makin nikmat. Selain itu porsinya juga mantap, bahkan kalau lagi ga begitu lapar, biasanya aku pesan 1/2 porsi saja.

Menu masakannya enak-enak, kontennya juga banyak, cocok banget buat maem bareng-bareng. Angsionya kuahnya enak, isinya banyak, kakap asam manis pun demikian, saus asam manisnya enak dan pas banget buat dicampur ke nasi cikur, plus daging kakap yang digoreng tepung juga ga mengecewakan rasa dan porsinya. Calamari juga enak walaupun seperti layaknya calamari biasa, cukup jadi cemilan saja karena tidak mengenyangkan, haha. Kalau kata Elvina si enak juga.

Kalau teh yang dipakai buat teh pocinya itu adalah teh Dilmah biasa sebenarnya, tapi agak berbeda dengan kafe kebanyakan yang biasanya penyajian per 1 cangkir, di sini disajikan dalam poci, yang bisa untuk 4 cangkir, jadi biasanya si pesan 1 poci buat berdua, hehe. Kalau kesukaan kami si pesan yang dingin, nyesss.

Dan psst, hal-hal lain yang sebenarnya bikin tempat ini semakin favoritku adalah pelayanan yang bagus dan tentu saja harganya masuk, hahaha. Dengan suasana, porsi, dan rasa makanan dan minuman yang menurutku sungguh oke, harganya sangat terjangkau, nasi cikur polos sekitar Rp 7.000, menu-menu masakannya sekitar Rp 16.000 – Rp 25.000 an, dan teh nya 1 poci itu Rp 12.000 an. Kalau buat ramai-ramai bisa lebih hemat lagi tu soalnya sebenarnya 1 menu masakan bisa dimakan ramai-ramai. Somehow memang seperti habis berkunjung ke rumah eyang, nyaman dan balik-balik kenyang dan puas.

Oh ya, sebenarnya di dalam Dapur Eyang ini ada menu-menu kopi juga yang disediakan oleh subunitnya yang bernama Kopi Eyang, nanti deh ya dibahas di post berikut.

Okee, cukup segitu dulu, semoga sharing pengalaman makan ini ada manfaatnya, haha, tetap kalap, tetap sehat, dan tetap berbahagia.

Dapur Eyang

Alamat: Jl. Tubagus Ismail Raya No.11, Sekeloa, Coblong, Bandung City, West Java

Jam Buka: 11.00–21.30

Iklan
Masakan Nusantara · Soto

Coto Makassar De Angkringan: Tau-tau Dapat Diskon

Permisi, judul postingan kali ini sebenarnya menurut saya sendiri agak-agak absurd dan blur, tapi semoga setelah membaca keseluruhan postingan kali ini jadi tidak seabsurd itu dan semoga ada sedikit esensi yang bisa dipetik (berasa tentang apa aja), hehe.

Jadi cerita diawali saat mau makan malam bareng teman-teman SMA yang masih tersisa di Bandung, yang tak lain dan tak bukan adalah Upan, Fatan, Jangir, dan Maman (nama sebenarnya -red). Saya mengusulkan untuk mencoba makan di tempat makan yang kayanya relatif baru yang ada di parkiran Dukomsel Dago, seberangnya GKI Maulana Yusuf. Saya tertarik karena namanya menarik, “De Angkringan”. Jujur aja, saya berpikir itu adalah bentuk modern dari angkringan-angkringan khas Jogja yang bakal menyediakan nasi kucing, sate usus, goreng-gorengan, dan susu jahe. Yang lainnya pun membayangkan hal yang sama begitu diberitahu nama tempatnya De Angkringan. 😐

Tapi begitu sampai di lokasi, kita terpekur bersama, soalnya emang bukan seperti yang dibayangkan bersama. Lebih tepat disebut food court si sebenarnya, ada beberapa jenis jualan di situ, ada yang yang menyediakan kopi komplet dengan sofa-sofa buat berleha-leha bercengkrama sambil menyeruput kopi, ada yang jualan berbagai jenis bakso, dan ada yang berjualan makanan makassar, jadi dia ada menyediakan coto makassar dan konro.

Akhirnya semua rame-rame memesan coto makassar sama konro kecuali saya. Pertamanya saya ga memesan makanan, soalnya udah kenyang abis makan sore, saya cuma memesan makanan bernama Ketan Duren (yang disingkat tandur sama yang jual 😐) karena penasaran. Tapi ga lama kemudian saya tergoda juga si saat coto pesanan teman-teman muncul tampak super menarik, jadi akhirnya memesan juga. 😀

Itu ketan durennya, ternyata memang namanya cukup harafiah, jadi ada ketan putihnya, lalu ada kaya campuran duren dan gula merah gitu, manis, durennya ga menyengat baunya tapi masih berasa banget, tapi lama-lama agak eneg juga entah kenapa, mungkin karena manisnya itu kali ya.

Nah untuk yang cotonya, ada 2 pilihan, mau pake daging khas atau campur, kalau daging khas itu isinya daging aja, kalau yang campur ada hati sama paru nya, saya pilih yang campur waktu itu. Dan ternyata ga salah saya ikut memesan, rasanya emang enak, jujur aja ini pertama kali saya makan coto makassar, hehe, berasa banget banyak rempah nya, kata si Maman pake cengkeh segala malahan, mungkin itu yang yang bikin kuahnya berasa segar. Dagingnya juga empuk banget, enak, sayangnya dikit soalnya banyakan hati sama paru nya. O iya, untuk coto, bisa milih pake nasi, ketupat, atau burasa, yang mana saya masih agak bingung apa bedanya sama ketupat sama burasa. 😀

Setelah hore-hore menikmati makanan, akhirnya tiba juga saatnya membayar, duh. Ketan duren nya tu harganya Rp 7500, kalau cotonya yang daging khas Rp 12.500, yang campur Rp 11.000. Waktu itu Upan yang bayar pertama, dia malah ditanyain masih kuliah apa enggak, ternyata kalau masih kuliah didiskon 20% dong, wow wow ! Sayang sekali upan udah ga kuliah, hoho, tapi untungnya saya masih kuliah (dan bawa KTM), jadilah makanan saya didiskon 20%, haha, hepi.

Yang saya masih belum yakin, itu tu diskon beneran emang lagi ada diskon, apa diskon yang spontan aja soalnya muka-muka kita muka kurang makan makanan bergizi semua gini, jadi dianya kasian, kayanya suatu saat perlu dipastikan lagi kebenarannya, mungkin teman-teman yang baca ini cobain juga dong lalu kasih info ke saya. 😀

(O iya, tadi pas brosing nemu sesuatu yang gaul, ternyata ada istilah tersendiri kalau mau makan coto, yaitu ‘maco’ yang merupakan singkatan dari ‘makan coto’ =)), sumbernya di sini).

Tetap kalap, tetap sehat, tetap bahagia, dan semoga sering-sering dapat diskon.

Jamur · Masakan Nusantara

(Terpaksa) Super Kalap di Jejamuran

Hei ho hei ho, setelah sekian lama terdiam blog ini (lagi lagi dan lagi lagi :D), saya akan mengepost sebuah postingan yang  memuat banyak foto-foto yang bakal bisa membuat liur menetes dengan deras, hoho. Mari langsung saja kita awali dengan foto-foto menggugah selera kehidupan ini.

Gimana gimana ? Menarik kan menarik kan. 😀 Berturut-turut dari atas adalah sate, bakar pedas, tongseng, goreng tepung, dadar, dan lumpia. Mungkin pada udah bisa menebak semua dari judulnya, yup yup, semua itu adalah olahan jamur loo, hehe. Yang sate ya sate jamur, yang tongseng ya tongseng jamur, lumpianya ya isi jamur, dan masakannya juga  ga sembarangan olahan jamur, tapi beneran wuenak, bener, enak banget, apalagi sate sama tongseng nya, favorit saya banget, hehe. Emang bisa dikatakan kalap juga si makan sebanyak itu buat berdua aja, soalnya emang enak-enak si, sama pingin coba2in menu-menu yang ada sekalian, lalu kan kalau kata orang-orang jamur kan sehat dan bagus buat badan juga, ga masalah lah ya, hoho. 😀

Yang satenya tu dari jamur tiram, sekilas-sekilas tekstur dan rasanya kaya daging gitu, kenyal-kenyal tapi, bumbunya ciamik, berasa manis tapi gurih juga, apalagi kalau udah sama bumbu kacangnya, hoho, epic. Tongsengnya dari jamur merang, kuahnya kental banget, rasanya kuat, dan bercitarasa tongseng banget, udah berasa makan tongseng daging kambing enak aja pas makan tongseng ini, minus aroma kambing tentunya, hehe. Lalu yang jamur bakar pedas itu enak juga, manis-manis pedas gitu, selain itu ada rendang jamur sama sop jamur juga, tapi kami ga pesan. Lumpianya juga enak sebenarnya, cuma beneran kecil banget, mana cuma muncul 1 lagi, agak bikin kecewa, haha.

Eits, ada hal penting yang lupa diceritakan, semua itu adalah menu yang ada di Jejamuran, sebuah restoran yang ada di Pandowoharjo, Jogjakarta, yang memang sesuai namanya mengembangbiakkan berbagai jenis jamur untuk dijadikan bahan dasar masakannya. Saya dan Elvina ke tempat ini sekitar bulan September 2011. Saya ajak dia ke tempat yang menjadi salah satu tempat makan yang wajib saya datangi kalau saya lagi pulang kampung ini, hehe. Tempatnya emang jauh dari kota si, kalau dari Jalan Magelang itu terus aja sampai perempatan Beran Lor lalu belok ke kanan lalu ikutin plang-plang jejamuran sekitar 800an m. Restoran ini sendiri juga berkembang pesat, dari saya beberapa tahun lalu ke sana dan sekarang udah beda banget, udah jadi gedhe dan ramai, sampai ada parkiran mobil terpisah (yang selalu penuh) juga. Kalau buat saya si yang  penting tetep enak. 🙂

Ni ada gambar dari sebagian kecil pengembangbiakan jamurnya.

Lalu ada minuman kesukaan saya dari kecil yang ga tau harus nyari lagi di mana selain di sana, yaitu saparella. 😀

Harga-harganya termasuk terjangkau, tiap menu nya berkisar sekitar 10 ribuan, emang porsi tiap menunya ga banyak-banyak amat si, tapi itu udah cukup pas kok, apalagi kalau mau pesan berbagai macam. 😀

Berhubung kali ini bahan dasarnya jamur-jamuran, walau kalap, tetap sehat, dan tetap bahagia. 😀

 

Lumpia · Masakan Nusantara · Nasi Pecel

Lumpia Semarang: Serasa Makan Istimewa di Rumah

Yak, jumpa lagi dengan joshua, di minggu pagi yang dingin ini, izinkan saya kembali membagi pengalaman kuliner kami. Kali ini kita akan bercerita tentang Lumpia Semarang, eits, yang saya maksud di sini bukan lumpia dari semarang yang berupa benda yang berkulit tepung dan berisi rebung itu (emang si ada hubungan eratnya), tapi yang saya maksud adalah tempat makan bernama Lumpia Semarang yang letaknya ada di Jalan Badak Singa, Bandung. Ada yang belum di mana itu jalan Badak Singa ? Kalau dari tamansari, dari atas, beberapa saat sebelum perempatan dengan jalan layang Pasupati ada belokan ke kiri kan ya, nah itu Jalan Badak Singa. Hoho.

Tempatnya itu seperti sebuah ruangan panjang seperti garasi di sebuah rumah biasa gitu, jadi mungkin kalau ga teliti waktu nyari bisa kelewatan. Kalau menurut saya si, suasananya ga kaya restoran gitu, nyaman, lalu waiter nya juga rata-rata sudah berumur setengah baya ke atas. Kalau dari menunya, wuah, liat menunya udah serasa liat tabel-tabel di excel, soalnya emang banyak banget, langsung bingung deh milihnya. Semua yang di sini masakan Indonesia gitu si, jadi sekilas emang berasa biasa dan gitu-gitu aja, mulai dari Lumpia Ayam (tentunya 😀), berbagai macam nasi (Langgi, Pecel, Gudeg, Berkat, Kuning, Urap, Timbel, Rawon, dan buanyak lagi), mie-miean, dan cemilan-cemilan (semacam tahu pong, tahu gimbal, tahu telur), dan beberapa puluh baris menu lainnya. Hiks Hehe.

Jadi pertama dengan pasti kita memesan Lumpia Ayam yang goreng, lalu dengan rekomendasi dari seorang teman, saya memesan Nasi Pecel Spesial, Elvina sebenarnya pingin memesan Nasi Begana Minggu, tapi ternyata cuma ada di hari minggu (dan abis itu kami baru ngerti maksudnya ada kata Minggu di nama menunya, haha), jadi dia akhirnya memilih memesan Nasi Berkat Spesial, dan (seperti biasa) juga memesan es Cincao.

Tak lama, muncul deh bendanya:

Lumpia Ayam

Tidak dapat dipungkiri, lumpia yang satu ini emang enak, selain diberi bumbu manis-manis yang kental seperti biasa, ada juga acar lobak (yang akhirnya cuma saya cicipi dikit). Lumpianya berisi rebung dan potongan daging ayam, lalu kulitnya agak keras gitu, semarang banget lah. Hati-hati kalau memesan menu ini jangan buru-buru makan, pastikan udah ga panas lagi, hehe.

Nasi Pecel SpesialNah, di atas itu adalah foto Nasi Pecel Spesial. Sebenarnya, saya kurang tertarik dengan pecel, saya jauh lebih suka lotek ataupun gado-gado walaupun sebenarnya mirip-mirip, tapi begitu melihat yang satu ini, menarik juga, jadi selain ada pecelnya, masih ada kaya masakan daging yang kehitaman itu, sama ada satu lagi yang saya ga tau namanya, lalu ada telor dan kerupuk juga, dan ada ayam gorengnya juga. Daan, begitu suapan pertama, wuooh, enak banget, haha, saya ga ingat pernah makan pecel seenak ini sebelumnya, apalagi yang suwiran daging itu juga enak, berasa banget di lidah. Juga ayamnya yang sekilas tampak seperti ayam goreng biasa ternyata enak (walau kecil 😛), ayam kampung nampaknya.

Nasi Berkat SpesialSedangkan Nasi Berkat Spesial punya Elvina ga jauh beda, sama-sama enak, kalau menurut saya si karena selain di setiap menu ada beberapa lauk yang cocok kombinasnya, masing-masing punya rasa yang kuat dan pas aja si, cocok banget si kalau di lidah saya, hehe. O iya, sepanjang yang saya tahu, Nasi Berkat itu berasal dari ketika jaman orang-orang masih sering kenduri untuk merayakan sesuatu, kan orang-orang datang membawa makanan, lalu didoakan bersama-sama, setelah itu dibawa pulang lagi deh, nah karena udah didoa-doakan itulah, diberi nama nasi berkat, hehe, waktu kecil si kalau ada nasi berkat saya sering disuruh makan sama nenek saya, biar jadi pintar katanya, hehe.

Lalu lalu, selain itu ada es cincao punya Elvina yang enak soalnya pake rasa coco pandan dan gimbal yang kaya bala-bala isinya udang, kalau menurut saya si ga gitu cocok, soalnya ada udang yang masih beraroma udang (ya iyalah, masa udang beraroma kambing), dan emang agak ga jelas si rasanya. 😐

Es CincaoGimbal

Jadi begitulah, seperti yang di judul, walaupun menu masakannya kaya masakan rumahan biasa, tapi rasanya itu lo,  istimewa. 😀

Tapi keistimewaan itu emang harus dibayar mahal si, makanan berat di sini harganya berkisar Rp 25.000-Rp 30.000, lumpianya Rp 8.500, cemilan-cemilannya Rp 10.000-Rp 20.000 an. Yah, apa mau dikata, emang enak dan isinya banyak kok, mau protes ga bisa juga, kan emang rasa ga bisa bohong, hehe. (bukan iklan)

Lumpia Semarang ini buka setiap hari kecuali Jumat dari jam 8.00 – 20.00. Kapan-kapan ke sana lagi ah, makan kalap lagi, tapi pastikan tetap sehat, dan bahagia. Haha. 😀