Ta Wan: Bukan bubur biasa

23 Jun

Kemarin saya dan Elvina ke Ta Wan yang ada di PVJ karena sedang ingin makan bubur. Dengan tagline The Porridge Place, sudah sepantasnya selain buburnya enak, Ta Wan menyediakan pilihan bubur yang banyak. Dan setelah bingung-bingung memilih kemarin, akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada Bubur Telor Asin dan Ayam Pitan.

Ada 2 pilihan untuk tiap menu bubur, yaitu Regular atau Large (selisih harganya hanya Rp 500 – Rp 1000), kami pilih yang large. Eits, tapi kami pesan yang porsi besar bukan karena kalap, tapi karena memang kami cuma memesan 1 buat berdua, karena emang banyak banget. Kecuali kalau emang porsi makannya besar atau  sedang super lapar, saya ga menyarankan pesan 1 porsi untuk sendirian, hehe. Dan jangan lupa memesan mangkuk tambahan kalau mau makan seporsi bareng2.😀 (setelah cari2 dan tanya2 dari teman saya Si Babi,  ta wan itu adalah pelafalan dari da wan (大碗) yang artinya mangkok besar , pantesan aja😀)

Bubur Telor Asin Ayam Phitan

Begitulah bentuk dari si bubur, yang hitam-hitam itu adalah pitan-nya. Pitan atau sering disebut telur 1000 tahun sendiri adalah telur bebek yang telah diawetkan dengan bumbu2 tertentu sehingga membuat telur menjadi hitam transparan dan kenyal seperti jelly (hasil googling :D). Sebenarnya buat saya agak aneh di lidah sih karena hampir ga pernah makan pitan, tapi enak-enak aja sebenarnya.

Selain bubur kami memesan Ayam Saus Lemon dan Tahu 5 Rasa, niatnya si memesan sayur2an, tapi apa mau dikata kegelapan mata berkata lain. Hoho.

Ayam Saus Lemon

Ayam saus lemon-nya enak, daging ayam-nya pas rasanya dan potongannya mantap, tapi saus lemon nya entah kenapa terasa terlalu manis dan kental, jadi curiga itu sebenarnya sirup jeruk yang sekedar dituang, haha.

Tahu 5 Rasa

Yang agak unik sebenarnya si Tahu 5 Rasa ini, jadi sebenarnya benda ini adalah tahu jepang yang digoreng, kemudian di atasnya ada taburan gandum dan bubuk manis (lebih terasa seperti oatmeal di lidah saya sebenarnya), lalu ada potongan hijau-hijau yang tidak tahu itu apa, dan potongan merah-merah yang tak lain adalah cabai kering. Sensasinya emang gimanaa gitu, tapi jujur, menu ini tidak bisa dibilang tidak menarik, hehe.

Di penghujung acara makan kami kemarin, Elvina mencoba ayam saus lemon dengan dilumuri bumbu2 dari si tahu 5 rasa, dan hasilnya adalah “Kaya lagi makan roti rasa ayam”, hahaha.

Untuk harga menu buburnya sendiri berkisar antara Rp 10.000 – Rp 20.000 an. Kalau untuk makanan selain bubur, harganya berkisar Rp 20.000 – Rp 60.000, biasanya yang relatif lebih mahal adalah menu bebek atau menu kepiting, yang sayangnya kemarin belum dicoba.

Ocai, sampai jumpa di pengalaman kuliner kami yang lain. Tetap kalap, tetap sehat, dan tetap bahagia!😀

2 Tanggapan to “Ta Wan: Bukan bubur biasa”

  1. Alan K Fadliawan 24 Juni 2011 pada 05:41 #

    Memang orang yang tidak biasa ngga bisa kalo makan bubur yang biasa.

    Kalo ayam yang saus lemon bisa diganti jadi pake saus kecap nggak crut? Keknya bisa jadi lebih enak…

    • dominikus 24 Juni 2011 pada 07:24 #

      Oh bisa aja kayanya, pesen aja ayam kung pao, dijamin enak *duh, jadi pingin😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: